Pagi berkabut di White Lord School. Semua murid berkumpul di sebuah tempat. Tempat di mana aku Celomita Franz, mengungkap jati diriku lewat sebuah gambar yang terpajang indah di dinding keramik tua. Semua orang tak peduli hasil karyaku, mungkin mereka menganggap aku gadis yang aneh dan tak pernah memiliki teman. Namun pagi itu terasa lain dari biasanya, seorang laki-laki jangkung berkacamata yang konon adalah siswa teropuler di sekolah datang menghampiri karyaku. Dia sangat antusias sekali dengan buah karyaku. Wajahnya tersenyum bak mentari indah yang terbit di ufuk timur. Aku pun terharu, akhirnya ada seseorang yang menyadari keberadaanku. Laki-laki itu bernama Leon dan sejak saat itu aku mencintainya.
Seminggu berlalu semenjak Leon memuji karyaku, aku semakin jatuh hati padanya. Namin hari ini tak seindah yang kukuira, telah berhembus kabar angn bahwa Leon telah meninggal akibat penyakit leukimia yang dideritanya sejak kecil. Seketika tubuhku pun tak berdaya, ragaku memang tidak jatuh tapi jiwaku kala itu bagai bunga sakura yang berguguran. Air mata tak terbendung membasahi setiap ruas pipiku, dalam hati ku menjerit kenapa orang sebaik dia cepat sekali pergi manghilang. Sore hari tepat pada hari kematian Leon aku beranjak ke sebuah danau kecil penuh dengan cemara tempat aku selalu menyendiri dan memotret. Aku masih teringat wajahnya yang tersenyum melihat pohon sakura yang pernah ku pamerkan. Ingin rasanya mengulang waktu agar aku bisa mengucapkan betapa aku sangat mencintainya. Entah dari mana asalnya aku melihat bayangan Leon di depan mataku. Oh tidak, ternyata bukan bayangan. Ini kenyataan aku tidak bermimpi. Ini adalah Leon, Leon Lucasevic.
“hai Celo.. namamu Celo kan?”
“apa aku bermimpi bukankah kau sudah meninggal?” , tepisku
“memang aku telah meninggal tepi aku masih belum tenang dan rohku masih ada di dunia ini. Aku masih ingin menemukan gadis yang memotret sakura karena aku ingin sekali memuji karyanya.”
“Leon, tetapi kenapa Cuma aku yang bisa melihatmu?”, tanyaku dengan gemetar
“karena aku telah memilihmu sebagai orang terakhir yang ku temui sebelum aku pergi untuk selamannya.”
Sejenak aku berpikir apakah ini hanya ilusiku. Aku mencoba tuk meraih tangannya tapi aku tak bisa, dunia kami telah berbeda. Aku tak bermaksud untuk tak menangis pada saat ini tapi tak terasa air mataku telah membanjiri pipiku. Tatkala ku dapati orang yang sangat ku cintai di depan mataku namun kini tak dapat lagi kusentuh.
Leon pun mendekati ku dan berbisik padaku “aku ingin kau mengganikan tugasku yaitu memiliki seratus orang teman namun aku masih belum menyelesaikannya. Aku percaya kalau kau pasti bisa, kau hanya terpaku pada kameramu tanpa mencoba mencari teman. Dan satu lagi….”. Leon tiba-tiba terdiam dan berbisik sedikit pelan “ relakanlah aku pergi… apakah kau bersedia?”. Wajah Leon kala itu membiru seperti air biru lautan. Akupun segera beranjak untuk berdiri dengan tegas dan berteriak..
“kenapa kau memilihku?”
“aku memilimu karena aku tahu kalau kaulah yang bisa walaupun aku belumpernah mengenalmu tapi aku sudah tahu dari semua foto yang kau hasilkan.”, wajah Leon kali ini kembali ceria. Dan berkata “aku ingin kau memulainya besok”. Hatiku seperti tersayat, senang, sedih, beraduk dalam melodi keabadian yang utuh. Ingin rasanya aku memeluknya tetapi aku tak bisa. Tiba-tiba hujan pun turun dan aku menyodorkan payung dari tas dan memberikannya pada Leon.
“tidak, ini untukmu saja. Aku kan roh, jadi hujan pun tak kan bisa membasahkan aku”
“Leon, bolehkah aku mengambil gambarmu?”
“oh, tentu saja”
Aku mengambil kameraku dan berhasil memotret arwah Leon yang tersenyum. Tiba-tiba Leon pun menjauh Spontan aku berteriak “Leon, Aku suka padamu!”. Leon pun membalik punggungnya dan mendekat sambil mencium keningku sambil berkata “cintailah orang lain selain aku karena kita tak mungkun bersama”. Dan rohnya pun menghilang.
Keesokan hari setelah aku mengganti potert pohon cemara dengan foto arwah Leon yang takterlihat karen itu aku memberinya judul ‘Di Antara Dua Sisi Dunia karya Celomitha’. Sebenarnya aku tahu sejak awal aku memotret, aku tak akan dapat lihat tapi aku senang karena hanya aku yang merasakan Leon yang selalu hidup di hatiku. Hari-hari berlalu, aku telah berhasil memenuhi harapan Leon yaitu mengumpulkan teman. Sekarang semua orang mengakui karyaku berkat Leon dan juga diriku sendiri. Setiap sore hari aku selalu ke danau itu sambil memotret, aku tahu Leon akan selalu mengawasiku di sini. Di sini tempat pertama dan terakhir aku pernah berbicara dengan makhluk terindah bernama Leon Lucasevic.
By: EsTu..















walah walah makasih udah di muat artikelku
kasih link ke aku dong
tambah sip ae
aku ada pr buat u loh